Inilah 25 Manfaat Sabun untuk Ketiak Berbau, Membunuh Bakteri!

Kamis, 22 Januari 2026 oleh journal

Bau badan, secara klinis dikenal sebagai bromhidrosis, merupakan kondisi yang timbul bukan dari keringat itu sendiri, melainkan dari aktivitas metabolisme mikroorganisme pada permukaan kulit.

Kelenjar apokrin, yang terkonsentrasi di area seperti ketiak, mengeluarkan keringat kaya akan lipid dan protein. Senyawa ini kemudian diurai oleh bakteri, terutama dari genus Corynebacterium, menjadi molekul volatil yang lebih kecil dan berbau tajam.

Inilah 25 Manfaat Sabun untuk Ketiak Berbau, Membunuh...

Penggunaan agen pembersih yang diformulasikan secara tepat berfungsi sebagai intervensi mendasar dengan menargetkan baik mikroorganisme penyebab maupun substrat yang mereka gunakan untuk berkembang biak, sehingga secara efektif mengurangi produksi senyawa malodor.

manfaat sabun untuk ketiak berbau

  1. Reduksi Populasi Bakteri. Manfaat paling mendasar adalah kemampuannya untuk secara signifikan mengurangi jumlah bakteri pada permukaan kulit ketiak.

    Aksi surfaktan dalam sabun mengangkat dan mengemulsi koloni bakteri, seperti Corynebacterium spp. dan Staphylococcus spp., yang kemudian dapat dihilangkan sepenuhnya melalui proses pembilasan dengan air.

    Pengurangan populasi mikroba ini secara langsung membatasi proses biotransformasi senyawa prekursor bau.

  2. Eliminasi Substrat Bakteri. Keringat yang dikeluarkan oleh kelenjar apokrin kaya akan lipid, protein, dan asam amino yang menjadi sumber nutrisi utama bagi bakteri penyebab bau.

    Sabun secara efektif melarutkan dan menghilangkan residu keringat ini dari permukaan kulit. Dengan menghilangkan "bahan bakar" bagi bakteri, produksi senyawa volatil berbau seperti asam trans-3-metil-2-heksenoat dapat dicegah pada sumbernya.

  3. Aksi Saponifikasi dan Emulsifikasi. Sabun bekerja melalui proses kimia yang disebut saponifikasi, di mana molekulnya yang bersifat amfifilik (memiliki ujung hidrofilik dan hidrofobik) mengikat minyak dan lemak.

    Ujung hidrofobik menempel pada sebum dan lipid dari keringat, sementara ujung hidrofilik berikatan dengan air. Proses ini membentuk misel yang mengemulsi kotoran, sehingga mudah terangkat dan terbilas dari kulit.

  4. Pengangkatan Sel Kulit Mati (Eksfoliasi). Permukaan kulit yang tidak bersih sering kali memiliki penumpukan sel kulit mati (keratinosit). Lapisan ini dapat menjadi tempat perlindungan dan perkembangbiakan bakteri serta menyumbat pori-pori.

    Penggunaan sabun secara teratur, terutama yang mengandung agen eksfolian lembut, membantu mengangkat sel-sel mati ini, menciptakan permukaan kulit yang lebih bersih dan kurang ramah bagi mikroorganisme.

  5. Disrupsi Biofilm Bakteri. Bakteri pada kulit sering kali membentuk struktur komunitas yang disebut biofilm, yaitu lapisan pelindung yang membuat mereka lebih resisten terhadap agen antimikroba.

    Sifat deterjen dari sabun mampu mengganggu matriks polisakarida dari biofilm ini. Dengan merusak struktur pelindung tersebut, bakteri menjadi lebih rentan dan lebih mudah dihilangkan dari kulit.

  6. Menjaga pH Fisiologis Kulit. Beberapa sabun modern diformulasikan dengan pH seimbang (sekitar 5.5) yang mendekati pH alami kulit yang sedikit asam.

    Lingkungan asam ini, yang dikenal sebagai mantel asam, secara alami menghambat pertumbuhan banyak bakteri patogen dan bakteri penyebab bau. Penggunaan sabun dengan pH yang sesuai membantu mempertahankan fungsi pelindung kulit ini.

  7. Meningkatkan Efektivitas Deodoran dan Antiperspiran. Mengaplikasikan produk deodoran atau antiperspiran pada kulit yang bersih adalah krusial untuk efektivitas maksimal.

    Sabun membersihkan kulit dari residu, minyak, dan keringat yang dapat menghalangi kontak langsung antara bahan aktif produk (seperti garam aluminium pada antiperspiran) dengan kulit dan saluran keringat, sehingga fungsinya lebih optimal.

  8. Mengandung Agen Antiseptik Tambahan. Banyak sabun diformulasikan dengan bahan antiseptik atau antibakteri spesifik seperti klorheksidin atau minyak pohon teh (tea tree oil).

    Senyawa ini memberikan efek antimikroba yang lebih kuat dan bertahan lebih lama dibandingkan sabun biasa. Sebuah studi dalam Journal of Antimicrobial Chemotherapy menyoroti efikasi minyak pohon teh terhadap berbagai bakteri kulit.

  9. Sifat Adsorpsi dari Bahan Tertentu. Sabun yang mengandung bahan seperti arang aktif (activated charcoal) atau tanah liat bentonit (bentonite clay) menawarkan manfaat tambahan.

    Bahan-bahan ini memiliki struktur berpori yang mampu menyerap (adsorpsi) kotoran, toksin, dan molekul penyebab bau secara fisik, menariknya keluar dari pori-pori kulit untuk kemudian dibilas.

  10. Mencegah Penyumbatan Kelenjar Keringat. Kebersihan area ketiak yang buruk dapat menyebabkan penumpukan sebum, sel kulit mati, dan residu produk, yang berpotensi menyumbat kelenjar keringat apokrin dan ekrin.

    Kondisi ini dapat memicu iritasi atau bahkan infeksi seperti folikulitis. Penggunaan sabun secara teratur memastikan saluran kelenjar tetap terbuka dan berfungsi normal.

  11. Mengurangi Risiko Iritasi Kulit. Akumulasi keringat dan produk sampingan metabolisme bakteri dapat mengubah pH kulit dan menyebabkan iritasi atau ruam. Dengan membersihkan area ketiak secara rutin, potensi iritan ini dihilangkan.

    Sabun yang mengandung bahan pelembap seperti gliserin juga membantu menjaga hidrasi kulit dan mencegah kekeringan yang dapat memicu iritasi lebih lanjut.

  12. Interupsi Jalur Biokimia Produksi Bau. Bau ketiak yang khas dihasilkan ketika enzim yang diproduksi bakteri memecah senyawa prekursor tak berbau dari keringat apokrin. Dengan menghilangkan bakteri, sabun secara efektif menginterupsi jalur biokimia ini.

    Tanpa adanya enzim bakteri, proses konversi menjadi senyawa malodor tidak dapat terjadi.

  13. Memberikan Aroma Masking Sekunder. Meskipun fungsi utamanya adalah membersihkan, banyak sabun yang diperkaya dengan wewangian (fragrance).

    Aroma ini memberikan efek sekunder sebagai penyamar (masking agent) untuk bau ringan yang mungkin masih tersisa setelah mandi, memberikan sensasi kesegaran yang lebih tahan lama sebelum penggunaan deodoran.

  14. Modulasi Mikrobioma Kulit. Penggunaan sabun yang tepat secara jangka panjang dapat membantu memodulasi komposisi mikrobioma kulit ketiak.

    Tujuannya adalah untuk mengurangi dominasi bakteri penghasil bau (seperti Corynebacterium) dan mendukung pertumbuhan mikroorganisme komensal yang tidak berkontribusi terhadap produksi bau badan yang signifikan.

  15. Mencegah Noda pada Pakaian. Campuran antara keringat, sebum, dan residu produk antiperspiran dapat bereaksi dan meninggalkan noda kekuningan pada pakaian, terutama di area ketiak.

    Membersihkan kulit secara menyeluruh dengan sabun sebelum berpakaian dapat mengurangi jumlah residu yang menempel pada kain, sehingga membantu menjaga kebersihan dan daya tahan pakaian.

  16. Meningkatkan Penyerapan Produk Perawatan Kulit. Jika area ketiak memerlukan perawatan topikal lain, misalnya untuk mengatasi hiperpigmentasi atau iritasi, kulit yang bersih mutlak diperlukan.

    Sabun mempersiapkan kulit dengan menghilangkan lapisan penghalang (kotoran, minyak), sehingga memungkinkan bahan aktif dari serum atau krim perawatan terserap lebih efektif.

  17. Efek Psikologis dan Peningkatan Kepercayaan Diri. Manfaat non-fisik yang signifikan adalah peningkatan rasa percaya diri dan kenyamanan sosial.

    Mengetahui bahwa area ketiak bersih dan bebas bau dapat mengurangi kecemasan sosial (social anxiety) yang sering dikaitkan dengan bromhidrosis, sehingga meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

  18. Mendukung Proses Termoregulasi Tubuh. Kulit yang bersih dengan pori-pori yang tidak tersumbat memungkinkan kelenjar keringat berfungsi secara efisien. Proses penguapan keringat adalah mekanisme utama tubuh untuk mendinginkan diri (termoregulasi).

    Menjaga kebersihan area ketiak mendukung efisiensi proses fisiologis vital ini.

  19. Mengurangi Sensasi Lengket dan Tidak Nyaman. Akumulasi keringat dan sebum di area lipatan seperti ketiak dapat menciptakan sensasi lengket dan tidak nyaman, terutama di iklim yang lembap.

    Mandi dengan sabun menghilangkan residu ini, mengembalikan sensasi kulit yang kering, bersih, dan nyaman.

  20. Aksi Mekanis dari Busa Sabun. Busa yang dihasilkan oleh sabun tidak hanya berfungsi secara kimiawi tetapi juga mekanis.

    Gelembung-gelembung kecil dalam busa membantu mengangkat partikel kotoran dari celah-celah kulit yang sulit dijangkau, dan gerakan menggosok saat aplikasi meningkatkan efektivitas pembersihan secara fisik.

  21. Pencegahan Infeksi Jamur. Area ketiak yang lembap dan hangat merupakan lingkungan ideal untuk pertumbuhan jamur, seperti yang menyebabkan tinea corporis.

    Menjaga area tersebut tetap bersih dan kering dengan bantuan sabun, terutama yang mengandung agen antijamur ringan, dapat secara signifikan mengurangi risiko infeksi jamur.

  22. Menghilangkan Residu Produk yang Menumpuk. Antiperspiran dan deodoran, terutama yang berformula kuat, dapat meninggalkan residu yang sulit dihilangkan hanya dengan air.

    Sabun mampu melarutkan dan mengangkat lapisan residu ini, mencegah penumpukan yang dapat mengiritasi kulit atau mengurangi efektivitas aplikasi produk selanjutnya.

  23. Menyediakan Dasar untuk Diagnosis yang Akurat. Jika bau badan yang berlebihan (hiperhidrosis atau bromhidrosis parah) memerlukan konsultasi medis, dokter kulit perlu memeriksa kondisi kulit yang bersih.

    Penggunaan sabun memastikan tidak ada faktor eksternal (seperti kotoran atau residu) yang mengganggu evaluasi klinis terhadap kondisi yang mendasarinya.

  24. Biokompatibilitas dengan Lapisan Stratum Corneum. Sabun yang diformulasikan dengan baik, terutama sabun sintetik (syndet), dirancang untuk membersihkan secara efektif tanpa merusak lapisan pelindung terluar kulit (stratum corneum) secara berlebihan.

    Ini menjaga integritas sawar kulit, mencegah kehilangan air transepidermal, dan menjaga kesehatan kulit ketiak dalam jangka panjang.

  25. Efek Sinergis dengan Air. Manfaat sabun tidak dapat dipisahkan dari peran air.

    Sabun bekerja untuk mengikat kotoran, tetapi airlah yang berfungsi sebagai medium pembilas untuk menghilangkan misel yang mengandung kotoran, bakteri, dan minyak tersebut dari tubuh.

    Kombinasi aksi kimia sabun dan aksi fisik air menghasilkan proses pembersihan yang komprehensif dan efektif.