Ketahui 18 Manfaat Sabun Papaya, Atasi Kulit Kusam & Cerahkan!

Jumat, 16 Januari 2026 oleh journal

Penggunaan produk eksfoliasi yang mengandung enzim proteolitik, seperti yang ditemukan dalam buah pepaya, seringkali dipromosikan untuk mencerahkan kulit.

Namun, dalam kondisi tertentu, agen pencerah ini justru dapat memberikan efek sebaliknya, yaitu menyebabkan penampilan kulit yang kurang bercahaya dan tampak lelah.

Ketahui 18 Manfaat Sabun Papaya, Atasi Kulit Kusam...

Fenomena ini terjadi ketika proses pengelupasan sel kulit mati berlangsung secara berlebihan atau tidak diimbangi dengan perawatan yang tepat, sehingga merusak komponen fundamental pertahanan kulit dan memicu serangkaian respons biologis yang merugikan.

manfaat sabun papaya malah membuat kulit kusam

  1. Eksfoliasi Berlebihan oleh Enzim Papain

    Enzim papain bekerja dengan memecah protein keratin pada lapisan terluar kulit (stratum korneum), yang secara efektif mengangkat sel kulit mati.

    Namun, penggunaan yang terlalu sering atau konsentrasi papain yang terlalu tinggi dapat menyebabkan pengelupasan yang berlebihan atau over-exfoliation.

    Proses ini tidak hanya mengangkat sel mati tetapi juga sel kulit sehat yang belum siap untuk luruh, sehingga membuat permukaan kulit menjadi tidak rata dan rentan.

    Menurut studi dalam Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology, eksfoliasi yang agresif dapat mengganggu siklus regenerasi sel kulit yang normal, yang pada akhirnya justru menghambat tercapainya kulit cerah dan sehat.

  2. Kerusakan Fungsi Sawar Kulit (Skin Barrier)

    Sawar kulit tersusun atas lipid interseluler yang berfungsi untuk melindungi kulit dari patogen eksternal dan mencegah kehilangan air. Sabun dengan sifat eksfoliatif yang kuat, termasuk sabun pepaya, dapat mengikis lapisan lipid esensial ini.

    Kerusakan sawar kulit ini mengakibatkan penurunan kemampuannya untuk mempertahankan kelembapan dan melindungi diri dari iritan lingkungan.

    Akibatnya, kulit menjadi lebih rentan terhadap peradangan, kemerahan, dan infeksi, yang secara kolektif berkontribusi pada penampilan yang kusam dan tidak sehat.

  3. Peningkatan Kehilangan Air Transepidermal (TEWL)

    Sebagai konsekuensi langsung dari rusaknya sawar kulit, tingkat Kehilangan Air Transepidermal atau Transepidermal Water Loss (TEWL) akan meningkat secara signifikan.

    Air dari lapisan kulit yang lebih dalam akan menguap ke lingkungan dengan lebih cepat, menyebabkan kondisi dehidrasi kronis pada kulit. Penelitian dermatologis secara konsisten menunjukkan korelasi antara TEWL yang tinggi dengan fungsi sawar yang terganggu.

    Kulit yang kekurangan air akan kehilangan kekenyalan dan kilaunya, sehingga tampak kering, bersisik, dan kusam.

  4. Dehidrasi Seluler yang Menurunkan Refleksi Cahaya

    Kulit yang cerah dan bercahaya adalah hasil dari kemampuannya memantulkan cahaya secara merata. Ketika sel-sel kulit mengalami dehidrasi akibat TEWL yang tinggi, sel-sel tersebut akan mengerut dan permukaannya menjadi kasar serta tidak teratur.

    Permukaan yang tidak rata ini menyebarkan cahaya ke berbagai arah alih-alih memantulkannya secara seragam. Fenomena optik inilah yang secara visual diartikan sebagai kulit kusam, karena kulit kehilangan kemampuannya untuk bersinar dari dalam.

  5. Memicu Respons Inflamasi Tingkat Rendah

    Penggunaan sabun pepaya yang terlalu keras dapat memicu respons peradangan atau inflamasi pada kulit, bahkan pada tingkat yang tidak terlihat secara kasat mata (subclinical inflammation).

    Sistem kekebalan kulit menginterpretasikan eksfoliasi berlebihan sebagai sebuah serangan, sehingga melepaskan mediator inflamasi.

    Peradangan kronis tingkat rendah ini dapat mengganggu proses pembaruan sel, merusak kolagen, dan menyebabkan warna kulit tidak merata, yang semuanya bermuara pada penampilan kulit yang lelah dan kusam.

  6. Produksi Sebum Kompensatoris

    Ketika sabun menghilangkan minyak alami (sebum) secara berlebihan, kelenjar sebasea akan menerima sinyal bahwa kulit terlalu kering. Sebagai respons kompensasi, kelenjar ini akan memproduksi sebum dalam jumlah yang lebih banyak untuk mencoba mengembalikan kelembapan.

    Produksi sebum yang berlebihan ini dapat menyumbat pori-pori dan menciptakan lapisan minyak di permukaan kulit yang, jika teroksidasi, dapat membuat wajah terlihat lebih gelap dan kusam, bukan lembap dan bercahaya.

  7. Peningkatan Fotosensitivitas Kulit

    Proses eksfoliasi menyingkap lapisan sel kulit baru yang lebih muda dan belum memiliki perlindungan melanin yang matang. Sel-sel baru ini secara inheren lebih rentan dan sensitif terhadap radiasi ultraviolet (UV) dari sinar matahari.

    Penggunaan sabun pepaya secara teratur tanpa diimbangi dengan aplikasi tabir surya yang memadai akan membuat kulit menjadi sangat fotosensitif. Paparan sinar UV pada kulit yang rentan ini akan mempercepat kerusakan seluler dan proses penuaan dini.

  8. Risiko Hiperpigmentasi Pasca-Inflamasi (PIH)

    Iritasi dan peradangan yang disebabkan oleh sabun pepaya, ditambah dengan paparan sinar UV pada kulit yang fotosensitif, adalah pemicu utama Hiperpigmentasi Pasca-Inflamasi (PIH).

    Kondisi ini terjadi ketika sel melanosit memproduksi melanin secara berlebihan sebagai respons terhadap cedera atau iritasi.

    Akibatnya, muncul bintik-bintik gelap atau area kulit yang warnanya tidak merata, membuat keseluruhan kompleksi wajah terlihat lebih gelap dan jauh dari kata cerah.

  9. Oksidasi Akibat Paparan Radikal Bebas

    Kulit yang sawar pelindungnya terganggu menjadi lebih permeabel terhadap polutan dan radikal bebas dari lingkungan. Di saat yang sama, paparan UV yang meningkat juga menghasilkan radikal bebas di dalam kulit.

    Stres oksidatif ini merusak komponen seluler penting seperti DNA, protein, dan lipid, yang mengganggu fungsi normal sel. Kerusakan kumulatif akibat stres oksidatif merupakan salah satu penyebab utama penuaan kulit dan penampilan yang kusam.

  10. Efek Paradoksikal pada Produksi Melanin

    Meskipun tujuan penggunaan sabun pepaya adalah untuk mengurangi hiperpigmentasi, efek iritasinya justru dapat memberikan hasil yang berkebalikan.

    Seperti yang dijelaskan oleh para ahli seperti Dr. Zoe Draelos dalam literatur dermatologi, setiap bentuk iritasi kulit dapat merangsang aktivitas melanosit.

    Jadi, alih-alih menekan produksi melanin, iritasi dari sabun pepaya dapat memicu produksi melanin baru sebagai mekanisme pertahanan alami kulit, yang akhirnya membuat kulit tampak lebih gelap atau kusam.

  11. Ketidakcocokan dengan Jenis Kulit Tertentu

    Individu dengan jenis kulit sensitif, kering, atau kondisi seperti rosacea dan eksim secara alami memiliki fungsi sawar kulit yang lebih lemah. Bagi mereka, penggunaan produk eksfoliatif seperti sabun pepaya dapat menjadi sangat merugikan.

    Reaksi negatif seperti kemerahan parah, rasa terbakar, dan pengelupasan yang tidak terkendali akan lebih mungkin terjadi, yang secara langsung menyebabkan tekstur dan warna kulit menjadi tidak merata dan kusam.

  12. Mengganggu Keseimbangan Mikrobioma Kulit

    Permukaan kulit adalah rumah bagi triliunan mikroorganisme yang membentuk mikrobioma kulit, yang berperan penting dalam menjaga kesehatan kulit.

    Sabun yang bersifat basa dan mengandung deterjen keras dapat mengganggu keseimbangan ekosistem ini, membunuh bakteri baik yang melindungi kulit.

    Ketidakseimbangan mikrobioma dapat membuka jalan bagi pertumbuhan bakteri patogen, yang dapat menyebabkan peradangan, jerawat, dan kondisi lain yang membuat kulit tampak tidak sehat dan kusam.

  13. Tingkat pH Basa yang Merusak Mantel Asam

    Banyak sabun batangan, termasuk beberapa varian sabun pepaya, memiliki pH yang bersifat basa (sekitar 9-10), sementara kulit sehat memiliki pH yang sedikit asam (sekitar 4.7-5.75), yang dikenal sebagai mantel asam.

    Penggunaan sabun basa akan mengganggu mantel asam ini, membuatnya lebih rentan terhadap dehidrasi dan pertumbuhan bakteri. Gangguan pH yang berulang kali akan melemahkan pertahanan alami kulit, menyebabkannya menjadi kering, tertarik, dan pada akhirnya kusam.

  14. Kandungan Bahan Tambahan yang Berpotensi Iritatif

    Selain papain, banyak sabun pepaya komersial yang diformulasikan dengan bahan-bahan tambahan untuk meningkatkan busa, aroma, dan daya tahan. Bahan seperti Sodium Lauryl Sulfate (SLS), pewangi buatan (fragrance), dan pewarna sintetis adalah iritan yang umum dikenal.

    Bahan-bahan ini dapat memperparah efek pengeringan dan iritasi dari papain, sehingga secara kumulatif berkontribusi lebih besar terhadap kerusakan sawar kulit dan penampilan yang kusam.

  15. Frekuensi Penggunaan yang Tidak Tepat

    Kesalahpahaman umum adalah bahwa semakin sering produk digunakan, semakin cepat hasilnya terlihat. Namun, untuk produk eksfoliasi, logika ini sangat keliru.

    Menggunakan sabun pepaya dua kali sehari, setiap hari, adalah frekuensi yang terlalu tinggi bagi sebagian besar jenis kulit.

    Penggunaan berlebihan ini tidak memberikan waktu yang cukup bagi kulit untuk pulih dan meregenerasi sawar pelindungnya, sehingga menyebabkan siklus kerusakan berkelanjutan yang berujung pada kulit kusam.

  16. Metode Aplikasi yang Terlalu Kasar

    Cara produk diaplikasikan juga memainkan peran penting. Menggosokkan sabun batangan langsung ke wajah atau menggunakan alat bantu pembersih yang kasar dapat menyebabkan abrasi fisik pada kulit.

    Gesekan mekanis ini, dikombinasikan dengan eksfoliasi kimiawi dari papain, menciptakan iritasi ganda yang sangat merusak. Seiring waktu, praktik ini akan menipiskan lapisan epidermis dan membuat kulit terlihat lelah dan tidak bercahaya.

  17. Minimnya Dukungan Produk Perawatan Lain

    Menggunakan sabun eksfoliatif tanpa rutinitas perawatan kulit yang mendukung adalah resep untuk kegagalan.

    Setelah membersihkan wajah dengan sabun pepaya, sangat krusial untuk segera mengaplikasikan produk yang menghidrasi (seperti toner atau serum hyaluronic acid) dan melembapkan (pelembap yang mengandung ceramide atau lipid).

    Tanpa langkah-langkah ini, kulit yang baru saja dieksfoliasi akan dibiarkan kering dan rentan, yang akan mempercepat timbulnya kekusaman.

  18. Akumulasi Kerusakan Jangka Panjang

    Efek negatif dari penggunaan sabun pepaya yang tidak tepat mungkin tidak langsung terlihat. Namun, seiring berjalannya waktu, kerusakan mikro yang terjadi setiap hari akan terakumulasi.

    Sawar kulit yang terus-menerus dilemahkan, peradangan tingkat rendah yang persisten, dan paparan UV tanpa proteksi akan secara bertahap menurunkan kesehatan kulit secara keseluruhan.

    Pada akhirnya, kulit akan kehilangan vitalitas, elastisitas, dan kilaunya, yang secara permanen membuatnya tampak lebih kusam dari sebelumnya.